Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syekh Nurjati Cirebon Prof. Didin Nurul Rosyidin meminta semua pihak untuk waspada terhadap politik adu domba berbasis sentimen agama yang banyak beredar di media sosial.
Propaganda keagamaan yang dikemas dengan narasi kebencian dan pemisahan “kita” versus “mereka” kini menjelma menjadi senjata ampuh untuk memecah belah masyarakat, terutama generasi muda yang aktif di ruang digital.
“Dunia dibagi secara sederhana menjadi kita dan mereka, kawan dan musuh,” kata Didin dalam keterangan tertulis yang diterima ANTARA di Jakarta, Rabu.
Prof. Didin mengatakan Fenomena ini bukan sekadar perdebatan ideologis, tetapi menjadi ancaman serius bagi fondasi kebangsaan jika tidak segera disikapi dengan bijak.
Ia mengatakan biasanya kelompok ekstremis-jihadis ini membawa narasi penyederhanaan dunia yang dinamis menjadi realitas biner, hitam-putih atau surga-neraka. Atas dasar itu, siapapun yang tidak sejalan dengan mereka, termasuk pemerintah, para ulama moderat, bahkan keluarga sekalipun, akan dianggap sebagai musuh yang harus dilawan.
Didin mengatakan strategi adu domba berbasis agama di dunia maya kerap dimanfaatkan kelompok ekstrem seperti Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) untuk mendelegitimasi pemerintah dan ulama moderat.
Ia juga menilai strategi ini, yang kerap digunakan oleh kelompok ekstremis untuk menyasar generasi muda guna menyebarkan propaganda dan pengaruhnya.