Isak tangis penuh penyesalan ketika Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Nanik S Deyang, menyampaikan permintaan maaf. Dengan tangan gemetar dan terduduk lemas di atas kursi, Nanik mengakui kelalaiannya.
Pemandangan itu membuat ruang konferensi pers hening, menyisakan suasana penuh beban. Makan Bergizi Gratis (MBG) yang semula diharapkan menjadi tumpuan keluarga miskin justru menciptakan tragedi.
Lebih dari 6.000 anak dilaporkan terbaring akibat dugaan keracunan. Kabupaten Bandung Jawa Barat menjadi daerah dengan jumlah korban terbanyak, bahkan beberapa wilayah menetapkan status Kejadian Luar Biasa (KLB).
Fakta ini mengguncang rasa aman orang tua yang selama ini bergantung pada program tersebut. Sebagai penanggung jawab, BGN tidak punya pilihan selain bertindak cepat.
Permintaan maaf bukan sekadar formalitas, melainkan simbol kesediaan untuk menanggung konsekuensi. Tanggung jawab inilah yang ditunggu publik, karena tanpa pengakuan, mustahil ada perbaikan sistem.
Krisis ini membuka mata semua pihak bahwa program besar tanpa pengawasan ketat bisa berbalik menjadi bencana. Dari dapur ke dapur, sekolah ke sekolah, rantai distribusi pangan MBG kini dipertanyakan.
Apakah standar yang ditetapkan benar-benar dijalankan? Itulah pertanyaan besar yang harus segera dijawab BGN.